Categories
Esai Media

Gemerlap Cahaya Gedung Tabib

Setelah 107 tahun kesunyian, Gedung Tabib bermandi cahaya dan riuh rendah. Penghujung Tahun 2018 itu dirayakan dengan sesuatu yang tidak biasa bagi seniman-seniman Kepulauan Riau dan seniman jemputan dari Riau, Medan, serta garut Jawa barat.

Categories
Esai Media

Warisan Arsitektur Negeri Temasek

Selalu berdecak kagum menyaksikan bagaimana negeri temasek, kini bernama Singapura ini memelihara warisan arsitekturnya. Tengoklah rupa Masjid Sultan singapura dan kawasan yang berhampiran dengannya seperti Kampung Gelam, Arab Street, dan Haji Lane.

Categories
Esai Media

Album Sedayoung Kepri, Pelayaran Pertama Samudra Ensemble

pernah dimuat di Jembia Tanjungpinang Pos Edisi Januari 2018

Adi Pranadipa, Penikmat musik

Jika Kekayaan Khazanah tradisi lokal Kepulauan Riau diramu dalam satu Album dan disajikan dengan warna musik dan instrumen modern, bagaimana jadinya ? Jawaban dari pertanyaan tersebut kiranya dapat ditemukan dalam album pertama milik Samudra Ensemble yang bertajuk “Sedayoung Kepri” yang dipersiapkan oleh Samudra Ensemble yang digawangi oleh Adi Lingkepin, Ryan Syahputra dan Kawan-kawan selama Empat tahun.

Sedayoung Kepri ini dapat dikatakan sebagai perahu besar yang menjadi naungan  bagi nomor-nomor lagu seperti Progressive Makyong, dan deretan repertoire yang sering dimainkan Samudra Ensemble dari panggung ke panggung di tiap helat yang ada di Kepulauan Riau.

Konsistensi mengangkat Khazanah Tradisi ke ruang dengar generasi milenial menjadi ciri khas Samudra Ensemble. Bahkan beberapa lagu di album ini yang pernah dimainkan di panggung  panggung kota gurindam sudah pula dikaver oleh peminat musik generasi milenial di kanal Youtube.

Berikut adalah resensi track demi track album yang berisi delapan buah lagu ini:

Progressive Makyong

Progressive Makyong tentu sudah akrab di ruang dengar Kepulauan Riau. Sebab dimana Samudra Ensembel manggung, lagu ini selalu ditunggu. Musik pengiring teater Makyong yang mistis itu menjadi lebih segar setelah dimodifikasi tanpa menghilangkan ruhnya, dimasukkan ke dalam jasad berbentuk nada-nada progresif.

Pong eee…ooi

angkat tangan menjunjung sembahlah

guru tua guru mudalah

eee ooi Yong de de de de (lagu Betabik)

Penjiwaan Rio, sang vokalis, dalam menyanyikan “Lagu Betabik” dan “Waktu Baik” teater Makyong yang menjadi bagian lirik pada Progressive Makyong memang dahsyat. Kebetulan Rio juga anak watan Bintan Timur, Kijang yang menjadi lokasi Makyong Kampung Keke, tentu ada suatu ikatan emosional terhadap lagu ini hingga seakan memberi nyawa pada progressive Makyong. Nada original pada Musik Makyong seakan bersahut-sahut dan berkayuh-kayuh secara selaras dengan arransemen progressive Samudra Ensemble memberikan harmoni yang membius telinga pendengar.

Progressive Makyong menurut saya adalah upaya Adi Lingkepin dan kawan-kawan Samudra Ensemble dalam melestarikan Eksistensi Makyong dengan cara Samudra Ensemble sendiri

Boria Samudra

Keriangan dan Kejenakaan Musik pengiring seni Tari Boria sepertinya mengilhami Samudra Ensemble untuk menggarap Track Boria Samudra ini. Seni Tari yang aslinya Permainan ini berasal dari masyarakat India Selatan yang banyak bermukim di Pulau Pinang (Penang), Semenanjung Tanah Melayu. Boria sangat populer pada Pemerintahan Sultan Riau-Lingga yang terakhir Sultan Abdul Rahman Al-Muazzam Syah.

Di Pulau Penyengat, permainan Boria telah mendapat sentuhan di sana sini sehingga mempunyai ciri khas dan sedikit berbeda secara keseluruhan jika dibandingkan dengan Boria di Pulau Pinang itu. Boria dimainkan pada setiap hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, peringatan naik tahta sultan, hari-hari besar pemerintahan Hindia-Belanda, dan lain-lain.

Energi Keriangan dan kejenakaan Boria mampu dihadirkan oleh Samudra Ensemble melalui lagu ini. Lirik Boria seperti

“Tabik encik, tabik tuan, tabik dengan sekalian,

kami datang beramai-beramai tuk menghibur

Hati yang rawan,

tabik dengan sekalian, pada Tuan yang budiman

Lagu Boria kami nyanyikan, pada tuan kami sembahkan”

Dibalut dengan aransemen nada-nada yang riang ala Samudra Ensemble mampu membuat sesiapa yang mendengar lagu ini akan merasakan riang dan gembiranya Boria.

Splice of Zapin Penyengat

Sebagai episentrum kebudayaan Melayu, Penyengat memiliki khazanah zapin sendiri yang masyhur dengan Zapin Penyengat. Tarian ini sudah eksis sejak tahun 1920-an. Gerak langkah kakinya sumbang. Ini yang membedakan Zapin Penyengat dengan zapin lain yang tersebar di nusantara

Sesuai Judul pada nomor track ini, maksud dari kata Splice  dapat berupa menyatukan dua hal yang berbeda, hal ini kentara sekali dengan upaya memadukan irama tradisional Zapin Pulau Penyengat dengan instrument modern seperti Drum dan Synthesizer. Hasilnya ? Sebuah repertoire Zapin Penyengat penuh energi namun tidak pula melupakan kelembutan irama asli Zapin penyengat yang dimainkan oleh petikan Gambus Ryan Syahputra, Tuts-tuts akordion Darwin Iskandar, Biola Adi Lingkepin serta perkusi dari Ikhsan, Benk Carabian, dan Hafiq menjadikan Splice of Zapin Penyengat menjadi salah satu Track yang wajib diperdengarkan di album ini.

Sweet Malay

Repertoire ini menawarkan mood yang riang, dan melodi yang bisa membelai lembut telinga pendengar, seperti deskripsi lagu ini pada konser peluncuran album sedayoung kepri akhir Desember lalu “Melayu yang bersahaja. Melayu yang ramah. Melayu yang baik. Melayu yang sederhana. Melayu yang harmonis. Melayu yang manis”

Tanjungpinang Kampong Kite

Vokal Dwi Mindra yang akrab disapa mira memberi nyawa lagu ini, Tanjungpinang Kampong Kite adalah Track yang menurut saya akan jadi ingatan zaman berzaman, mengingat lagu tentang tanjungpinang dalam beberapa dekade terakhir cukup jarang terdengar. Intro yang catchy menjadikan lagu ini gampang terngiang-ngiang di pikiran serta lirik yang memiliki ikatan Emosional kuat dengan segenap anak Tanjungpinang dimanapun berada.

Kepri Berbenah

Lagu ini ditujukan kepada segenap Generasi Muda anak negeri agar menjadi maju dalam segala hal tanpa melupakan adat istiadat dan santun berbahasa. Memetik semangat Gurindam XII pasal 5 “Belajar dan bertanya tiadalah Jemu”  dan pasal 11 “hendaklah berjasa; kepada yang sebangsa; hendaklah jadi kepala; buang perangai yang cela” menjadi pesan kuat dalam lagu ini. Supaya Generasi muda Kepri menjadi Tuan di Negeri, menjadi andalan Kepri.

Zapin Cogan

Lirik yang ditulis oleh Raja Ahmad Helmi ini menyeru pada persatuan dibawah filosofi Cogan sebagai pemersatu. Intro yang catchy membuat lagu dengan langgam zapin ini sangat easy listening dan akan cepat akrab di telinga pendengar baik dari kalangan milenial maupun kalangan yang lebih tua. Track yang wajib disimak.

Gurindam + (plus)

Gurindam Dua Belas ditulis oleh Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, Riau, pada tarikh 23 Rajab 1263 Hijriyah atau 1847 Masehi dalam usia 38 tahun. Karya ini terdiri atas 12 pasal dan dikategorikan sebagai Syiar Al-Irsadi atau puisi didaktik, karena berisikan nasihat dan petunjuk menuju hidup yang diridhoi Allah.

Track Gurindam plus  dari sudut pandang saya adalah Track pamungkas di Album Sedayoung Kepri ini. Arransement Adi Lingkepin dan Kawan-kawan samudra Ensemble menjadikan track ini penuh energi dan megah. Datuk Rida K. Liamsi pada Festival Sungai Carang pertama beberapa tahun lalu pernah mengatakan untuk melestarikan Gurindam Dua Belas, dapat dilakukan beberapa hal seperti mengaransemen Gurindam XII dalam berbagai bentuk musik.

Nah Apa yang dilakukan Samudra Ensemble dalam track ini dapat dibilang mewujudkan apa yang disampaikan oleh Datuk Rida. Aransemen Musik Progresif Etnik Fusion yang menghentak memberi ruang masing-masing personil untuk mengeluarkan kemampuan maksimal, harmoni vokal Mira dan Rio menjadikan Gurindam XII terutama pasal-pasal budi pekerti menjadi terngiang-ngiang di telinga pendengar. Percayalah, track ini tak akan cukup sekali didengar. Di tengah track ini juga, Rio memperdengarkan kemahirannya nge-rap. Tidak kalah dengan Rio, Mira juga menyenandungkan gurindam XII dengan nada pembacaan yang akrab di kalangan masyarakat Kepri.

Secara Keseluruhan, Di Tengah keterbatasan sumberdaya yang dimiliki oleh Samudra Ensemble, album ini patut diapresiasi karena diproduksi secara swadaya di Markas Samudra Ensemble, mulai dari recording hingga Mastering. Zaman NOW yang membutuhkan kecepatan akses informasi dan media dalam genggaman, Samudra Ensemble perlu bahkan penting untuk melirik Distribusi Musik jalur Digital untuk jangkauan pendengar yang lebih luas

Samudra Ensemble  semestinya jangan berpuas hati terlebih dahulu dengan rilisnya album ini. Sesuai tajuk Album, Sedayoung, ini baru satu kali dayung perahu samudra ensemble di gugusan lautan Inspirasi bernama Kepulauan Riau. Semakin berjalan waktu, pendengar dan peminat tentu menginginkan hal yang baru dari Samudra Ensemble yang konsisten mengangkat khazanah Tradisi Kepulauan Riau. Masih banyak sumber inspirasi karya yang bisa digarap untuk album berikutnya, dengan riset yang mumpuni tentu akan menjadi sesuatu yang layak ditunggu. Tahniah Samudra Ensemble!

Categories
Esai Media

The Beatles, Fabulous Four

Siapa yang tak kenal The Beatles? Mungkin jawabannya bervariasi, namun generasi baby boomer yang lahir kurun 1960an,hingga generasi X dan sedikit Generasi Y pasti kenal sosok dan lagu-lagu dari Fabulous Four asal Liverpool itu.

https://medium.com/cuepoint/how-the-beatles-revolver-gave-brian-wilson-a-nervous-breakdown-4b3939c4e0e5

Lagu-lagu hit sepanjang zaman seperti Hey Jude, A Hard Days Night, Let It Be, A Day in Life, Elleanor rigby,dan lain-lain rasanya tidak usang untuk didengar di zaman ini. Namun yang jelas, Band Legendaris Dunia yang digawangi John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr itu sangat Fenomenal. Saking fenomenalnya, mampu memberi pengaruh musikal yang luas hingga kini. Baik kepada sesama musisi barat, hingga musisi di Indonesia.

The Beatles pada masa jayanya dapat dilihat sebagai fenomena Budaya. Dalam artikel ilmiah yang bertajuk The Beatles and Their Influence on Culture, Rudolf Heckl (2006) menulis bahwa musik adalah hal yang paling penting pada Budaya Pop tahun 1960-an di Britania Raya.

Era Pop Culture 1960-an inilah yang memunculkan The Beatles.  Dari Liverpool mereka mendunia. Pengaruh genre yang menciptakan karakter musik The Beatles cukup banyak, utamanya musik seperti Rock n Roll dan musisi seperti Chuck Berry, Roy Orbison, Isley Brothers  dan Elvis Presley. Musik mereka juga dipengaruhi oleh music tempatan Inggris, Skiffle.

Paul McCartney sendiri dipengaruhi oleh Musik teatrikal Inggris yang mengiringi masa pertumbuhanya, serta musik amerika seperti Ragtime Jazz. Pengaruh-pengaruh musik ini dapat dirasakan di beberapa lagu the beatles seperti “When I’m Sixty-Four”(1967)  dan “Maxwell’s Silver Hammer”(1969)

Sebagaimana Karakter Kota Liverpool sebagai Kota pelabuhan yang penting, menjelma sebuah Melting Pot, titik dimana berbagai macam Budaya bertemu. Nuansa inilah yang membawa pengaruh luas bagi mereka.

Pengaruh berbagai macam music ini memainkan peranan yang sangat penting bagi proses kreatif The Beatles. Tidak hanya musik barat saja, elemen music timur turut juga menginspirasi mereka untuk memberi ruang ekplorasi yang lebih luas yang hasilnya dapat disimak pada album Rubber Soul and Revolver yang dirilis tahun 1965 dan 1966.

Adalah George Harrison,  yang terpaut hatinya dengan Sitar. Keterpautan itu menuntun ia untuk belajar kepada Ravi Shankar, Ayah biologis Alicia Keys. Hasil pembelajaran George dapat disimak pada track “Norwegian Wood”pada album Rubber Soul. Lagu ini merupakan lagu pop pertama yang menggunakan sitar.

Tak hanya di satu track saja, The Beatles kemudian memasukan instrument sitar ini di beberapa lagu lainnya seperti “Tomorrow Never Knows,” “Love You To,” and “Within You Without You”. Upaya ini dapat dianggap sebagai Laluan bagi nada-nada oriental untuk diperdengarkan kepada audience mainstream eropa.

Album Rubber Soul dan Revolver inilah yang disebut sebagai inovasi baru dari The Beatles, Karena pengaruh black music mulai hilang, dan kemudian berganti menjadi sesuatu yang baru.

Ternyata Rubber Soul dan Revolver hanyalah pembuka jalan untuk album paling penting  mereka,  Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band yag dirilis tahun 1967. Inilah album yang dinilai banyak kalangan paling penting dalam karir music The Beatles.

Menurut Gammond (1993) dalam bukunya yang bertajuk The Oxford Companion to Popular Music, album ini adalah campuran surealisme, mistisme, vaudeville, dan Rock yang membawa musik pop ke alaf baru.

Album ini seperti layaknya sebuah album konsep, dimana masing-masing lagu adalah lagu tersendiri tetapi menyatu secara konsep sudah dirancang sejak awal. Berbagai macam style musik tumpah ruah di album ini seperti; “Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band” dan “Getting Better” dengan style Rock.

Kemudian ada Lagu yang harmonisasinya tidak biasa seperti “Fixing a Hole” dan “Being for the Benefit of Mr. Kite”. Jenis Music Hall atau Musik teatrikal khas inggris juga dapat ditemukan di lagu “When I‘m 64”. Jenis music psikedelik ada pada lagu “Lucy in the Sky with Diamonds”. Filosofi dan nuansa India juga dapat dijumpai pada lagu  “Within You Without You” dan lain sebagainya.

Susunan Lagu dalam album tidak hanya sekedar track-track yang bersusun-susun, namun rupanya membentuk satu rangkaian lagu yang menyerupai Pembukaan, Penutup, hingga Catatan Akhir. Luar Biasa!

Memang kalau kita dengarkan secara seksama, album ini dibuka oleh “Sgt. Pepper Lonely Hearts Club Band” dan diakhiri dengan “Sgt. Pepper Lonely Hearts Club Band (Reprise)” versi pendek dari lagu dengan lirik yang berbeda. Kemudian tanpa jeda, kemudian masuk ke Track “A Day in the Life,” salah satu lagu terbaik The Beatles. Lagu ini terdiri dari tiga bagian: bagian pertama dan ketiga merupakan bagian yang ditulis oleh John Lennon, kemudian bagian tengah ditulis oleh Paul McCartney.  Walaupun sama sekali berbeda, tetapi ianya saling berkait-kelindan bersama-sama secara keseluruhan.

The Beatles menjadi perintis dalam album konsep, yang kemudian diikuti oleh Band-band yang muncul pasca akhir 60-an seperti Pink Floyd, Mendiang David Bowie, Radiohead di tahun 2001,  bahkan pola-pola album konsep ini juga dipakai oleh Dream Theater pada album Metropolis 2: Scene From a Memories.

Namun semua pencapaian dan kebersaman The Beatles sebagai sebuah grup mesti berakhir di tahun 1970. Tiap Personil memutuskan untuk merintis solo karir masing-masing. Lalu sesuatu yang tragis kemudian terjadi di Tanggal 8 Desember tahun 1980, John Lennon ditembak mati oleh Mark David Caphman di New York. The Beatles benar-benar bubar.

Walau bubar, The Beatles tetap memiliki tempat tersendiri di sejarah budaya musik pop dunia dan menjadi salah satu Band yang terlaris sepanjang masa, yang berhasil menjual 400 juta kopi rekamannya pada saat mereka masih aktif berkarir. The Beatles akan tetap abadi, dan dikenang dunia. The Legend Lives On.

Adi Pranadipa, Penikmat Musik

Categories
Esai Media

2016: Essai Foto Penutupan Tamadun Melayu Belakang Padang

Belakangpadang, 2016

Senja berkabut di pulau yang hanya segaris samudra dengan Singapura, Sabtu(30/04) membuat panorama pencakar langit negeri temasek yang biasanya terlihat jelas menjadi rambang dan samar. Menjelang matahari terbenam, saya baru sampai di Pulau Penawar Rindu. Sambil menunggu Maghrib, saya meneguk Teh Tarik di kedai Double Peach yang sering disebut kedai kopi ameng.

Selepas Isya’ dimulai lah Malam Penutupan Tamadun Melayu dan Festival Kampung Toea yang dihelat selama dua hari, 29 hingga 30 April 2016.  Satu persatu penduduk Belakangpadang berjalan kaki menuju lokasi perhelatan acara yang ditaja oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam. Di Gedung Sri Indrasakti sudah berdiri panggung megah bertata lampu spektakuler dengan tata suara yang apik. 

Samson Rambah Pasir, Kabid Kebudayaan Disparbud Batam yang juga penyair itu mengatakan bahwa pihaknya mencoba membawa panggung-panggung seni budaya di pulau-pulau sekitar dan kampung-kampung dengan Tata suara dan tata lampu panggung yang tetap sama kualitasnya jika dilaksanakan di kota.

Dikir barat yang fenomenal membuka senarai acara penutupan. Selepas Dikir Barat yang membuat penonton terpukau akan gerak cepat seretaknya,  Mak Unai, ratu pantun belakangpadang mencairkan suasana dengan pantun interaktifnya dengan penonton yang hadir. Jika penonton bisa berpantun, Mak Unai akan menghadiahkan buku pantun yang disusunnya.

Wakil Walikota Batam, Amsakar Ahmad yang menutup secara resmi helat Festival Kampoeng Toea kedua ini(sebelumnya dihelat di Nongsa),memukau penonton dari podium dengan dua buah puisi yang ia bacakan tanpa teks. Kesukaan Amsakar terhadap puisi ini mengingatkan saya akan Walikota Tanjungpinang periode sebelumnya, Suryatati A. Manan. 

Rupanya tak hanya Amsakar saja yang memukau penonton yang tumpah ruah memadati halaman Gedung Sri Indrasakti dengan sajak-sajaknya. Ramon Damora, Pengelola Yayasan Jembia Batam Pos pun tak kalah ekspresif membacakan puisi yang berkisah tentang orang belakang padang.

Alunan Violin berpadu dengan bait-bait sajak puisi yang berjudul Orang Belakangpadang memberi nuansa magis serta emosional hingga suasana menjadi hening. Tepuk tangan gemuruh pecah berderai seusai Ramon mengakhiri puisinya.

Penampilan Tari yang memukau dari sejumlah sanggar yang terpilih membuat helat penutupan menjadi berkesan. Rangkaian penampilan Sanggar tari ini juga dalam rangka merayakan Hari Tari Sedunia yang jatuh tanggal 29 April.  Salah Satu Sanggar yang tampil malam itu  adalah Sanggar Wan Sendari yang berhasil menjadi penyaji terbaik pertama saat Parade Tari  Kota Batam beberapa waktu lalu.

Hantaran Wan Sendari

Olahan kreasi tari bertajuk ”Hantaran Wan Sendari” ini berkisah tentang legenda tentang Wan Sendari, Anak dari Demang Lebar Daun yang dilamar oleh Sang Sapurba, leluhur raja-raja Melayu.

Selain Wan Sendari,  juga tampil Sanggar Duta Santarina yang menampilkan Olahan kreasi Tari yang mengisahkan awal mula penamaan Duriangkang pada sebuah Tanjung di Kota Batam.

Sanggar Duta Santarina sendiri merupakan penyaji terbaik kedua di Parade tari kota Batam tahun 2016. Kedua Sanggar inilah yang akan mewakili Batam di Parade Tari Daerah Tingkat Provinsi di Tanjungpinang, Panggung Pemuncak kreasi tari Sanggar-sanggar Terbaik dari seantero Provinsi Kepri, untuk memperebutkan tiket mewakili Kepri pada ajang Parade Tari tingkat Nasional. 

Seperti laiknya penghujung setiap helat Seni Budaya Melayu, Joget lambak menjadi penutup yang manis. Seluruh pengisi acara malam penutupan Tamadun Melayu dan festival Kampoeng Toea di Belakang padang tumpah ruah ikut bertandak meluahkan kegembiraan usai menjayakan perhelatan seni budaya yang kian mengukuhkan Belakangpadang sebagai Pulau Penawar Rindu, rindu akan rangginya seni dan budaya melayu. **

Categories
Esai Media

Tanjungpinang From The Senggarang