Urban History

Kota Lama, Garden City, dan Arsitektur Jengki

Oleh Adi Pranadipa

Sebagai warisan kolonial, kota lama Tanjungpinang sebenarnya sudah ditata sedemikian cantik oleh Belanda. Tata ruang dan alur Jalan sebenarnya tak terlalu banyak berubah.

Hal itu menjadi tajuk perbincangan saya dengan Ifardianto, seorang Urban PlannerTanjungpinang,Kamis malam (02/08/2019) di kafe miliknya di Jalan Engku Putri Tanjungpinang.

Menurut Ifardianto yang akrab dipanggil Iip, rute dan alur Kota lama Tanjungpinang ini dibentuk oleh Belanda dan tak terlalu banyak berubah hingga sekarang.  Kota lama Tanjungpinang itu secara ruang dan alur memang pusaka kolonial.

“Aku pernah coba buat overlay peta Tanjungpinang tahun 1946 dengan Tanjungpinang tahun 2016, ternyata tak jauh berbeda,” katanya.

“Gaya Belanda membangun kota lama Tanjungpinang sepertinya serupa dengan konsep Garden City yang diperkenalkan oleh Sir Ebenezer Howard dari Inggris. Coba kita lihat di belakang Gedung Daerah sampai panorama, banyak tumbuhan-tumbuhan dan pepohonan rimbun,” kata pemilik Koffsos yang juga alumni Magister Perencanaan Wilayah Untar ini.

Konsep Garden City ini, menurut Iip, juga dilakukan Belanda ketika membangun kota Malang. Konsep ini adalah metode perencanaan perkotaan yang dicetuskan pada tahun 1898 oleh Sir Ebenezer Howard di Inggris Raya. Garden City menurut Sir Ebenezer Howard ini adalah bagaimana sebuah pemukiman dalam kota itu dirancang secara terencana yang dikelilingi “sabuk hijau”, terdiri dari kawasan permukiman, industri dan pertanian yang tersebar merata.

Mendengar kata “sabuk hijau” dalam konsep Sir Ebenezer howard ini, ingatan saya langsung tertuju pada dokumentasi foto lama Tanjungpinang tahun 1910 koleksi Tropen Museum yang bertajuk Straatgezicht met de protestantse kerk en de ingang van een moskee, Tandjong Pinang yang dapat diakses melalui wikimedia.

Pemandangan jalan dengan gereja Protestan dan pintu masuk ke masjid Keling Tandjong Pinang. Koleksi Tropenmuseum.

Di foto itu masih ada terlihat bentuk awal Gereja Ayam (belakang KFC di masa sekarang), jalan yang kini menjadi jalan dekat GOR Kacapuri, kemudian bisa ditengok tangga dan pagar Masjid Keling (lokasi masjid Agung Al-hikmah masa kini), dengan rimbunnya pepohonan kala itu. Serupa dengan sabuk hijau yang dikonsep oleh Ebenezer Howard melalui garden city movement.

Melalui foto bertajuk Residentswoning (links) te Tandjoengpinang (Tempat Tinggal Residen)yang diakses melalui laman Digital Collections Perpustakaan Universitas Leiden, Sabuk Hijau itu kentara sekali.

Sampai masa kini pun, hasil pembangunan konsep garden city oleh Belanda itu masih bisa dirasakan.

Coba kita tengok halaman belakang Gedung Daerah lalu kita berjalan menyusuri hingga taman panorama, masih banyak pohon-pohon lama yang masih lestari.

Ada baiknya perencanaan Kota Tanjungpinang kedepan kembali menengok konsep Garden City ini.

Dari soal tata ruang, perbincangan kami mengalir kepada topik gaya arsitektur yang masih tersisa di kota lama Tanjungpinang kini.

Tinggalan arsitektur kolonial yang mayoritas berupa cagar budaya itu masih dapat dilihat dari beberapa warisan arsitektur Indische (indis) seperti Gedung Daerah Tanjungpinang (walau sudah terlalu banyak berubah), sekolah Belanda yang kini menjadi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Gereja Ayam, Rutan Tanjungpinang, Sampiterne (SD/SMP Bintan) dan lain-lain.

Residentswoning (links) te Tandjoengpinang, (Tempat Tinggal Residen di Tanjungpinang), Kawasan Gedung Daerah saat ini. Koleksi KITLV Universitas Leiden.

Selain arsitektur Indis, tinggalan arsitektur pecinan di Jalan Merdeka juga mewarnai kota lama Tanjungpinang. Seperti Klenteng Tien Hou Kong (Vihara Bahtera Sasana) yang dibangun tahun 1857. Arsitektur warisan pecinan juga sangat khas di kawasan Jalan Merdeka. Umumnya menggunakan bentuk jendela Jalusi yang umum digunakan di daerah tropis. Coba lihat fasad bumbung-bumbung ruko di sekitar, ada yang masih mempertahankan bentuk klasik terutama atap.

“Namun seiring perkembangan zaman, arsitektur pecinan mulai berganti dengan arsitektur Jengki atau Yankee, pascakemerdekaan Indonesia. Bentuk ini dapat dilihat di fasad hotel Tanjungpinang, simpang Pelantar I, dan ruko-ruko di Jalan Gambir,” Kata Iip.

“Setelah era konfrontasi dan tahun 1965 sepertinya makin banyak ruko-ruko di kota lama dipermak menggunakan arsitektur Jengki,” pungkas Iip.

Dilansir dari Wikipedia, Jengki adalah gaya arsitektur modernis pasca-perang yang dikembangkan di Indonesia setelah kemerdekaannya. Gaya ini populer antara akhir 1950-an  hingga awal 1960-an.

Gaya Jengki mencerminkan pengaruh baru Amerika Serikat pada arsitektur Indonesia setelah ratusan tahun pemerintahan kolonial Belanda. Ini dapat ditafsirkan sebagai interpretasi tropis dari rumah pinggiran kota modernis Amerika pascaperang.

Johan Silas, tokoh arsitektur indonesia berspekulasi bahwa arsitektur khas ini adalah ekspresi dari semangat politik kebebasan di antara orang Indonesia, yang diterjemahkan ke dalam arsitektur yang berbeda dari apa yang telah dilakukan Belanda.

Perbincangan Kamis malam itu membawa saya menyusuri kota lama sambil menenteng kamera. Ternyata benar, ada yang bercampur, seperti atap dengan arsitektur pecinan lama, namun di bagian jendela sudah memakai arsitektur Jengki. Ada juga yang masih mempertahankan bentuk lama, tapi hanya sebahagian.

Fasad bumbung yang unik khas pecinan lama masih dapat saya jumpai di Jalan Merdeka. Ada beberapa ruko yang bumbungnya khas dengan ukiran gaya pecinan.

Menyusuri Jalan Pos, saya melihat beberapa pemandangan yang agak miris. Terlihat seperti bangunan dengan langgam arsitektur pecinan, namun terbiar tak terawat, padahal bentuknya sangat otentik. Rasanya perlu segera ditangani oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang sebelum punah-ranah. Tak ayal, saya pun mengabadikan bentuk unik bangunan bergaya pecinan itu.

Khazanah arsitektur kota lama ini menjadi bukti bahwa Kota lama Tanjungpinang ini adalah kota multikultur dimana kultur Melayu, Tionghoa, kolonial (sisi arsitektur dan peninggalan tata ruang) rukun berdampingan sejak berabad-abad silam hingga kini.

Pemerintah Kota Tanjungpinang perlu bertindak cepat, bahkan sangat cepat. Tentu kita tidak ingin kecolongan macam yang sudah-sudah seperti punah ranahnya Bioskop Gembira di kota lama.

Soal dana, Pemerintah Kota Tanjungpinang bisa menjolok Kementerian PUPR. Beruntung, ada program penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP). Ternyata proses menjadikan Tanjungpinang Kota Pusaka ini sudah dimulai sejak November 2018. Namun upaya pelestarian harus dilakukan secepatnya. Sebelum anak cucu hanya meratapi warisan yang wujud dalam arsip foto saja. []

Adi Pranadipa
Sehari-hari berkhidmat di UPT Pusat TIK UMRAH, Minat pada Fotografi, Videografi, Sejarah, Sastra, Pariwisata dan Media Digital

Tulisan ini pernah dimuat di Viswara.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *