Categories
Esai Media

Album Sedayoung Kepri, Pelayaran Pertama Samudra Ensemble

pernah dimuat di Jembia Tanjungpinang Pos Edisi Januari 2018

Adi Pranadipa, Penikmat musik

Jika Kekayaan Khazanah tradisi lokal Kepulauan Riau diramu dalam satu Album dan disajikan dengan warna musik dan instrumen modern, bagaimana jadinya ? Jawaban dari pertanyaan tersebut kiranya dapat ditemukan dalam album pertama milik Samudra Ensemble yang bertajuk “Sedayoung Kepri” yang dipersiapkan oleh Samudra Ensemble yang digawangi oleh Adi Lingkepin, Ryan Syahputra dan Kawan-kawan selama Empat tahun.

Sedayoung Kepri ini dapat dikatakan sebagai perahu besar yang menjadi naungan  bagi nomor-nomor lagu seperti Progressive Makyong, dan deretan repertoire yang sering dimainkan Samudra Ensemble dari panggung ke panggung di tiap helat yang ada di Kepulauan Riau.

Konsistensi mengangkat Khazanah Tradisi ke ruang dengar generasi milenial menjadi ciri khas Samudra Ensemble. Bahkan beberapa lagu di album ini yang pernah dimainkan di panggung  panggung kota gurindam sudah pula dikaver oleh peminat musik generasi milenial di kanal Youtube.

Berikut adalah resensi track demi track album yang berisi delapan buah lagu ini:

Progressive Makyong

Progressive Makyong tentu sudah akrab di ruang dengar Kepulauan Riau. Sebab dimana Samudra Ensembel manggung, lagu ini selalu ditunggu. Musik pengiring teater Makyong yang mistis itu menjadi lebih segar setelah dimodifikasi tanpa menghilangkan ruhnya, dimasukkan ke dalam jasad berbentuk nada-nada progresif.

Pong eee…ooi

angkat tangan menjunjung sembahlah

guru tua guru mudalah

eee ooi Yong de de de de (lagu Betabik)

Penjiwaan Rio, sang vokalis, dalam menyanyikan “Lagu Betabik” dan “Waktu Baik” teater Makyong yang menjadi bagian lirik pada Progressive Makyong memang dahsyat. Kebetulan Rio juga anak watan Bintan Timur, Kijang yang menjadi lokasi Makyong Kampung Keke, tentu ada suatu ikatan emosional terhadap lagu ini hingga seakan memberi nyawa pada progressive Makyong. Nada original pada Musik Makyong seakan bersahut-sahut dan berkayuh-kayuh secara selaras dengan arransemen progressive Samudra Ensemble memberikan harmoni yang membius telinga pendengar.

Progressive Makyong menurut saya adalah upaya Adi Lingkepin dan kawan-kawan Samudra Ensemble dalam melestarikan Eksistensi Makyong dengan cara Samudra Ensemble sendiri

Boria Samudra

Keriangan dan Kejenakaan Musik pengiring seni Tari Boria sepertinya mengilhami Samudra Ensemble untuk menggarap Track Boria Samudra ini. Seni Tari yang aslinya Permainan ini berasal dari masyarakat India Selatan yang banyak bermukim di Pulau Pinang (Penang), Semenanjung Tanah Melayu. Boria sangat populer pada Pemerintahan Sultan Riau-Lingga yang terakhir Sultan Abdul Rahman Al-Muazzam Syah.

Di Pulau Penyengat, permainan Boria telah mendapat sentuhan di sana sini sehingga mempunyai ciri khas dan sedikit berbeda secara keseluruhan jika dibandingkan dengan Boria di Pulau Pinang itu. Boria dimainkan pada setiap hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, peringatan naik tahta sultan, hari-hari besar pemerintahan Hindia-Belanda, dan lain-lain.

Energi Keriangan dan kejenakaan Boria mampu dihadirkan oleh Samudra Ensemble melalui lagu ini. Lirik Boria seperti

“Tabik encik, tabik tuan, tabik dengan sekalian,

kami datang beramai-beramai tuk menghibur

Hati yang rawan,

tabik dengan sekalian, pada Tuan yang budiman

Lagu Boria kami nyanyikan, pada tuan kami sembahkan”

Dibalut dengan aransemen nada-nada yang riang ala Samudra Ensemble mampu membuat sesiapa yang mendengar lagu ini akan merasakan riang dan gembiranya Boria.

Splice of Zapin Penyengat

Sebagai episentrum kebudayaan Melayu, Penyengat memiliki khazanah zapin sendiri yang masyhur dengan Zapin Penyengat. Tarian ini sudah eksis sejak tahun 1920-an. Gerak langkah kakinya sumbang. Ini yang membedakan Zapin Penyengat dengan zapin lain yang tersebar di nusantara

Sesuai Judul pada nomor track ini, maksud dari kata Splice  dapat berupa menyatukan dua hal yang berbeda, hal ini kentara sekali dengan upaya memadukan irama tradisional Zapin Pulau Penyengat dengan instrument modern seperti Drum dan Synthesizer. Hasilnya ? Sebuah repertoire Zapin Penyengat penuh energi namun tidak pula melupakan kelembutan irama asli Zapin penyengat yang dimainkan oleh petikan Gambus Ryan Syahputra, Tuts-tuts akordion Darwin Iskandar, Biola Adi Lingkepin serta perkusi dari Ikhsan, Benk Carabian, dan Hafiq menjadikan Splice of Zapin Penyengat menjadi salah satu Track yang wajib diperdengarkan di album ini.

Sweet Malay

Repertoire ini menawarkan mood yang riang, dan melodi yang bisa membelai lembut telinga pendengar, seperti deskripsi lagu ini pada konser peluncuran album sedayoung kepri akhir Desember lalu “Melayu yang bersahaja. Melayu yang ramah. Melayu yang baik. Melayu yang sederhana. Melayu yang harmonis. Melayu yang manis”

Tanjungpinang Kampong Kite

Vokal Dwi Mindra yang akrab disapa mira memberi nyawa lagu ini, Tanjungpinang Kampong Kite adalah Track yang menurut saya akan jadi ingatan zaman berzaman, mengingat lagu tentang tanjungpinang dalam beberapa dekade terakhir cukup jarang terdengar. Intro yang catchy menjadikan lagu ini gampang terngiang-ngiang di pikiran serta lirik yang memiliki ikatan Emosional kuat dengan segenap anak Tanjungpinang dimanapun berada.

Kepri Berbenah

Lagu ini ditujukan kepada segenap Generasi Muda anak negeri agar menjadi maju dalam segala hal tanpa melupakan adat istiadat dan santun berbahasa. Memetik semangat Gurindam XII pasal 5 “Belajar dan bertanya tiadalah Jemu”  dan pasal 11 “hendaklah berjasa; kepada yang sebangsa; hendaklah jadi kepala; buang perangai yang cela” menjadi pesan kuat dalam lagu ini. Supaya Generasi muda Kepri menjadi Tuan di Negeri, menjadi andalan Kepri.

Zapin Cogan

Lirik yang ditulis oleh Raja Ahmad Helmi ini menyeru pada persatuan dibawah filosofi Cogan sebagai pemersatu. Intro yang catchy membuat lagu dengan langgam zapin ini sangat easy listening dan akan cepat akrab di telinga pendengar baik dari kalangan milenial maupun kalangan yang lebih tua. Track yang wajib disimak.

Gurindam + (plus)

Gurindam Dua Belas ditulis oleh Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, Riau, pada tarikh 23 Rajab 1263 Hijriyah atau 1847 Masehi dalam usia 38 tahun. Karya ini terdiri atas 12 pasal dan dikategorikan sebagai Syiar Al-Irsadi atau puisi didaktik, karena berisikan nasihat dan petunjuk menuju hidup yang diridhoi Allah.

Track Gurindam plus  dari sudut pandang saya adalah Track pamungkas di Album Sedayoung Kepri ini. Arransement Adi Lingkepin dan Kawan-kawan samudra Ensemble menjadikan track ini penuh energi dan megah. Datuk Rida K. Liamsi pada Festival Sungai Carang pertama beberapa tahun lalu pernah mengatakan untuk melestarikan Gurindam Dua Belas, dapat dilakukan beberapa hal seperti mengaransemen Gurindam XII dalam berbagai bentuk musik.

Nah Apa yang dilakukan Samudra Ensemble dalam track ini dapat dibilang mewujudkan apa yang disampaikan oleh Datuk Rida. Aransemen Musik Progresif Etnik Fusion yang menghentak memberi ruang masing-masing personil untuk mengeluarkan kemampuan maksimal, harmoni vokal Mira dan Rio menjadikan Gurindam XII terutama pasal-pasal budi pekerti menjadi terngiang-ngiang di telinga pendengar. Percayalah, track ini tak akan cukup sekali didengar. Di tengah track ini juga, Rio memperdengarkan kemahirannya nge-rap. Tidak kalah dengan Rio, Mira juga menyenandungkan gurindam XII dengan nada pembacaan yang akrab di kalangan masyarakat Kepri.

Secara Keseluruhan, Di Tengah keterbatasan sumberdaya yang dimiliki oleh Samudra Ensemble, album ini patut diapresiasi karena diproduksi secara swadaya di Markas Samudra Ensemble, mulai dari recording hingga Mastering. Zaman NOW yang membutuhkan kecepatan akses informasi dan media dalam genggaman, Samudra Ensemble perlu bahkan penting untuk melirik Distribusi Musik jalur Digital untuk jangkauan pendengar yang lebih luas

Samudra Ensemble  semestinya jangan berpuas hati terlebih dahulu dengan rilisnya album ini. Sesuai tajuk Album, Sedayoung, ini baru satu kali dayung perahu samudra ensemble di gugusan lautan Inspirasi bernama Kepulauan Riau. Semakin berjalan waktu, pendengar dan peminat tentu menginginkan hal yang baru dari Samudra Ensemble yang konsisten mengangkat khazanah Tradisi Kepulauan Riau. Masih banyak sumber inspirasi karya yang bisa digarap untuk album berikutnya, dengan riset yang mumpuni tentu akan menjadi sesuatu yang layak ditunggu. Tahniah Samudra Ensemble!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *