Categories
Esai Media

The Beatles, Fabulous Four

Siapa yang tak kenal The Beatles? Mungkin jawabannya bervariasi, namun generasi baby boomer yang lahir kurun 1960an,hingga generasi X dan sedikit Generasi Y pasti kenal sosok dan lagu-lagu dari Fabulous Four asal Liverpool itu.

https://medium.com/cuepoint/how-the-beatles-revolver-gave-brian-wilson-a-nervous-breakdown-4b3939c4e0e5

Lagu-lagu hit sepanjang zaman seperti Hey Jude, A Hard Days Night, Let It Be, A Day in Life, Elleanor rigby,dan lain-lain rasanya tidak usang untuk didengar di zaman ini. Namun yang jelas, Band Legendaris Dunia yang digawangi John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr itu sangat Fenomenal. Saking fenomenalnya, mampu memberi pengaruh musikal yang luas hingga kini. Baik kepada sesama musisi barat, hingga musisi di Indonesia.

The Beatles pada masa jayanya dapat dilihat sebagai fenomena Budaya. Dalam artikel ilmiah yang bertajuk The Beatles and Their Influence on Culture, Rudolf Heckl (2006) menulis bahwa musik adalah hal yang paling penting pada Budaya Pop tahun 1960-an di Britania Raya.

Era Pop Culture 1960-an inilah yang memunculkan The Beatles.  Dari Liverpool mereka mendunia. Pengaruh genre yang menciptakan karakter musik The Beatles cukup banyak, utamanya musik seperti Rock n Roll dan musisi seperti Chuck Berry, Roy Orbison, Isley Brothers  dan Elvis Presley. Musik mereka juga dipengaruhi oleh music tempatan Inggris, Skiffle.

Paul McCartney sendiri dipengaruhi oleh Musik teatrikal Inggris yang mengiringi masa pertumbuhanya, serta musik amerika seperti Ragtime Jazz. Pengaruh-pengaruh musik ini dapat dirasakan di beberapa lagu the beatles seperti “When I’m Sixty-Four”(1967)  dan “Maxwell’s Silver Hammer”(1969)

Sebagaimana Karakter Kota Liverpool sebagai Kota pelabuhan yang penting, menjelma sebuah Melting Pot, titik dimana berbagai macam Budaya bertemu. Nuansa inilah yang membawa pengaruh luas bagi mereka.

Pengaruh berbagai macam music ini memainkan peranan yang sangat penting bagi proses kreatif The Beatles. Tidak hanya musik barat saja, elemen music timur turut juga menginspirasi mereka untuk memberi ruang ekplorasi yang lebih luas yang hasilnya dapat disimak pada album Rubber Soul and Revolver yang dirilis tahun 1965 dan 1966.

Adalah George Harrison,  yang terpaut hatinya dengan Sitar. Keterpautan itu menuntun ia untuk belajar kepada Ravi Shankar, Ayah biologis Alicia Keys. Hasil pembelajaran George dapat disimak pada track “Norwegian Wood”pada album Rubber Soul. Lagu ini merupakan lagu pop pertama yang menggunakan sitar.

Tak hanya di satu track saja, The Beatles kemudian memasukan instrument sitar ini di beberapa lagu lainnya seperti “Tomorrow Never Knows,” “Love You To,” and “Within You Without You”. Upaya ini dapat dianggap sebagai Laluan bagi nada-nada oriental untuk diperdengarkan kepada audience mainstream eropa.

Album Rubber Soul dan Revolver inilah yang disebut sebagai inovasi baru dari The Beatles, Karena pengaruh black music mulai hilang, dan kemudian berganti menjadi sesuatu yang baru.

Ternyata Rubber Soul dan Revolver hanyalah pembuka jalan untuk album paling penting  mereka,  Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band yag dirilis tahun 1967. Inilah album yang dinilai banyak kalangan paling penting dalam karir music The Beatles.

Menurut Gammond (1993) dalam bukunya yang bertajuk The Oxford Companion to Popular Music, album ini adalah campuran surealisme, mistisme, vaudeville, dan Rock yang membawa musik pop ke alaf baru.

Album ini seperti layaknya sebuah album konsep, dimana masing-masing lagu adalah lagu tersendiri tetapi menyatu secara konsep sudah dirancang sejak awal. Berbagai macam style musik tumpah ruah di album ini seperti; “Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band” dan “Getting Better” dengan style Rock.

Kemudian ada Lagu yang harmonisasinya tidak biasa seperti “Fixing a Hole” dan “Being for the Benefit of Mr. Kite”. Jenis Music Hall atau Musik teatrikal khas inggris juga dapat ditemukan di lagu “When I‘m 64”. Jenis music psikedelik ada pada lagu “Lucy in the Sky with Diamonds”. Filosofi dan nuansa India juga dapat dijumpai pada lagu  “Within You Without You” dan lain sebagainya.

Susunan Lagu dalam album tidak hanya sekedar track-track yang bersusun-susun, namun rupanya membentuk satu rangkaian lagu yang menyerupai Pembukaan, Penutup, hingga Catatan Akhir. Luar Biasa!

Memang kalau kita dengarkan secara seksama, album ini dibuka oleh “Sgt. Pepper Lonely Hearts Club Band” dan diakhiri dengan “Sgt. Pepper Lonely Hearts Club Band (Reprise)” versi pendek dari lagu dengan lirik yang berbeda. Kemudian tanpa jeda, kemudian masuk ke Track “A Day in the Life,” salah satu lagu terbaik The Beatles. Lagu ini terdiri dari tiga bagian: bagian pertama dan ketiga merupakan bagian yang ditulis oleh John Lennon, kemudian bagian tengah ditulis oleh Paul McCartney.  Walaupun sama sekali berbeda, tetapi ianya saling berkait-kelindan bersama-sama secara keseluruhan.

The Beatles menjadi perintis dalam album konsep, yang kemudian diikuti oleh Band-band yang muncul pasca akhir 60-an seperti Pink Floyd, Mendiang David Bowie, Radiohead di tahun 2001,  bahkan pola-pola album konsep ini juga dipakai oleh Dream Theater pada album Metropolis 2: Scene From a Memories.

Namun semua pencapaian dan kebersaman The Beatles sebagai sebuah grup mesti berakhir di tahun 1970. Tiap Personil memutuskan untuk merintis solo karir masing-masing. Lalu sesuatu yang tragis kemudian terjadi di Tanggal 8 Desember tahun 1980, John Lennon ditembak mati oleh Mark David Caphman di New York. The Beatles benar-benar bubar.

Walau bubar, The Beatles tetap memiliki tempat tersendiri di sejarah budaya musik pop dunia dan menjadi salah satu Band yang terlaris sepanjang masa, yang berhasil menjual 400 juta kopi rekamannya pada saat mereka masih aktif berkarir. The Beatles akan tetap abadi, dan dikenang dunia. The Legend Lives On.

Adi Pranadipa, Penikmat Musik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *