Categories
Esai Media

2016: Essai Foto Penutupan Tamadun Melayu Belakang Padang

Belakangpadang, 2016

Senja berkabut di pulau yang hanya segaris samudra dengan Singapura, Sabtu(30/04) membuat panorama pencakar langit negeri temasek yang biasanya terlihat jelas menjadi rambang dan samar. Menjelang matahari terbenam, saya baru sampai di Pulau Penawar Rindu. Sambil menunggu Maghrib, saya meneguk Teh Tarik di kedai Double Peach yang sering disebut kedai kopi ameng.

Selepas Isya’ dimulai lah Malam Penutupan Tamadun Melayu dan Festival Kampung Toea yang dihelat selama dua hari, 29 hingga 30 April 2016.  Satu persatu penduduk Belakangpadang berjalan kaki menuju lokasi perhelatan acara yang ditaja oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam. Di Gedung Sri Indrasakti sudah berdiri panggung megah bertata lampu spektakuler dengan tata suara yang apik. 

Samson Rambah Pasir, Kabid Kebudayaan Disparbud Batam yang juga penyair itu mengatakan bahwa pihaknya mencoba membawa panggung-panggung seni budaya di pulau-pulau sekitar dan kampung-kampung dengan Tata suara dan tata lampu panggung yang tetap sama kualitasnya jika dilaksanakan di kota.

Dikir barat yang fenomenal membuka senarai acara penutupan. Selepas Dikir Barat yang membuat penonton terpukau akan gerak cepat seretaknya,  Mak Unai, ratu pantun belakangpadang mencairkan suasana dengan pantun interaktifnya dengan penonton yang hadir. Jika penonton bisa berpantun, Mak Unai akan menghadiahkan buku pantun yang disusunnya.

Wakil Walikota Batam, Amsakar Ahmad yang menutup secara resmi helat Festival Kampoeng Toea kedua ini(sebelumnya dihelat di Nongsa),memukau penonton dari podium dengan dua buah puisi yang ia bacakan tanpa teks. Kesukaan Amsakar terhadap puisi ini mengingatkan saya akan Walikota Tanjungpinang periode sebelumnya, Suryatati A. Manan. 

Rupanya tak hanya Amsakar saja yang memukau penonton yang tumpah ruah memadati halaman Gedung Sri Indrasakti dengan sajak-sajaknya. Ramon Damora, Pengelola Yayasan Jembia Batam Pos pun tak kalah ekspresif membacakan puisi yang berkisah tentang orang belakang padang.

Alunan Violin berpadu dengan bait-bait sajak puisi yang berjudul Orang Belakangpadang memberi nuansa magis serta emosional hingga suasana menjadi hening. Tepuk tangan gemuruh pecah berderai seusai Ramon mengakhiri puisinya.

Penampilan Tari yang memukau dari sejumlah sanggar yang terpilih membuat helat penutupan menjadi berkesan. Rangkaian penampilan Sanggar tari ini juga dalam rangka merayakan Hari Tari Sedunia yang jatuh tanggal 29 April.  Salah Satu Sanggar yang tampil malam itu  adalah Sanggar Wan Sendari yang berhasil menjadi penyaji terbaik pertama saat Parade Tari  Kota Batam beberapa waktu lalu.

Hantaran Wan Sendari

Olahan kreasi tari bertajuk ”Hantaran Wan Sendari” ini berkisah tentang legenda tentang Wan Sendari, Anak dari Demang Lebar Daun yang dilamar oleh Sang Sapurba, leluhur raja-raja Melayu.

Selain Wan Sendari,  juga tampil Sanggar Duta Santarina yang menampilkan Olahan kreasi Tari yang mengisahkan awal mula penamaan Duriangkang pada sebuah Tanjung di Kota Batam.

Sanggar Duta Santarina sendiri merupakan penyaji terbaik kedua di Parade tari kota Batam tahun 2016. Kedua Sanggar inilah yang akan mewakili Batam di Parade Tari Daerah Tingkat Provinsi di Tanjungpinang, Panggung Pemuncak kreasi tari Sanggar-sanggar Terbaik dari seantero Provinsi Kepri, untuk memperebutkan tiket mewakili Kepri pada ajang Parade Tari tingkat Nasional. 

Seperti laiknya penghujung setiap helat Seni Budaya Melayu, Joget lambak menjadi penutup yang manis. Seluruh pengisi acara malam penutupan Tamadun Melayu dan festival Kampoeng Toea di Belakang padang tumpah ruah ikut bertandak meluahkan kegembiraan usai menjayakan perhelatan seni budaya yang kian mengukuhkan Belakangpadang sebagai Pulau Penawar Rindu, rindu akan rangginya seni dan budaya melayu. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *